diskusi dengan penyair
Semalam aku mengikuti sebuah diskusi. PRAM: sastra dan tafsir agama, begitu temanya. Pembicaranya seorang penyair asal Surabaya bernama Tengsu siapa gitu, aku lupa. Diskusi digelar di sebuah toko buku kecil bernama SYARIKAT. Toko itu berada di jalan kertoraharjo 77, dekat Kampus Brawijaya. Tidak ada meja atau kursi. Hanya karpet. Ya, kami duduk lesehan membentuk dua buah lingkaran. Satu di dalam toko, yang dinding-dindingnya dipenuhi pajangan buku-buku perlawanan; satunya lagi di halaman, beratap langit yang bertabur bintang. Aku suka suasananya: sederhana, tapi ada ruh juang dan sedikit-banyak intelektualitas. Hmm.., romantis.
Aku tidak banyak tahu tentang Pram. Aku tidak pernah sedikitpun membaca tulisan-tulisannya. Aku hanya tahu Pram dari tulisan orang-orang yang mengaguminya. Jadi, sebenarnya aku adalah orang yang tidak begitu layak mengikuti diskusi itu, kecuali hanya sebagai pendengar saja.
Dan memang mulanya aku hanya ingin mendengarkan saja. Namun, ketika pembicara mengatakan bahwa Pram mungkin percaya akan adanya kekuatan besar di luar dirinya yang bernama Tuhan, dan karenanya ia mungkin masih “beriman” meski ia tidak tampak melakukan ibadah, aku terpaksa mengingatkan bahwa iblis pun benar-benar (bukan hanya “mungkin” sebagaimana Pram) percaya akan eksistensi Tuhan tetapi ia dicap kafir oleh Tuhan (QS. 2:34). Ya, intinya, iman itu tidak hanya cukup percaya di hati, tetapi juga mesti terejawantah dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Alhamdulillah, Pak Tengsu akhirnya mengiyakan pendapatku itu.
Aku juga terpaksa bicara ketika ada seorang peserta diskusi bernama Jayadi yang menanyakan manakah yang lebih keras, benturan sastra dengan agama ataukah benturan sastra dengan ideologi. Aku terheran-heran dengan pertanyaan itu. Sepertinya dalam benak Jayadi, sastra itu punya “ide” sendiri yang berpotensi berbenturan dengan agama dan ideologi-ideologi yang ada. Menurutku, sastra itu netral. Ia berhak dimiliki dan digunakan sebagai media oleh agama dan ideologi apapun. Lihatlah karya-karya Taufik Ismail. Cermatilah puisi-puisi Emily Dickinson. Bahwasannya Pram pernah diuber-uber rezim Soeharto, itu bukanlah perbenturan antara sastra dengan ideologi tertentu melainkan perbenturan antara ideologi yang ada dalam karya sastra Pram dengan ideologi yang dianut Soeharto. Bahwasannya Salman Rushdie dikutuk kaum muslim sedunia karena Satanic Verses-nya, itu bukanlah manifestasi dari perbenturan antara sastra dengan Islam melainkan perbenturan ideologi yang ada dalam Satanic Verses dengan ideologi Islam. Jadi, sastra adalah netral. Ia baru bisa dikatakan berideologi ketika ia berafiliasi dengan ideologi lain di luar dirinya. Begitu menurutku.
Tapi Pak Tengsu tidak sepenuhnya setuju dengan pendapatku itu. Ia bilang sastra itu tidak berangkat dari kekosongan. Sejak pertama kali ditulis, karya sastra telah mengandung sebuah nilai, hasil dari perenungan penulisnya. Dalam hati aku ingin mengatakan bahwa nilai yang dimaksud itulah yang lahir dari sebuah frame berfikir tertentu yang ada dalam benak penulis. Frame berfikir tertentu itu bukanlah sastra itu sendiri, tetapi sesuatu yang lain di luar sastra. Jadi aku tetap berkesimpulan, bahwa sastra itu netral. Isinya-lah yang membuatnya tidak netral. Wallahua’lam.

<< Home